08 September 2007


Subhanallah, Insya Allah Ramadhan akan segera datang menemui kita yang rela bersua. Orang bijak mengatakan, Ramadhan adalah saatnya berbenah dan mengubah diri menjadi lebih baik lagi. Bahkan jika diibaratkan dengan sebuah games, Ramadhana adalah sesi bonus untuk mengambil poin sebanyak mungkin dengan mudah dan gampang. Bagaimana tidak, bayangkan tidurnya orang berpuasapun dinilai ibadah dan berpahala.

Namun sejak hampir dua dekade ini, puasa tidak mendapatkan pahala semata, melainkan juga fantasi dan hiburan yang semakin memanjakan mata kita. Beraneka tayangan televisi semakin menghibur dan melenakan hingga tak terasa waktu berbuka telah tiba. Akhirnya bukan meraih poin sebanyak mungkin, tapi ngebut secepat mungkin tanpa mengambil satupun bonus yang tersedia di kiri kanan kita...Masya Allah.

Tayangan pun semakin beragam, mulai dari kuis sahur yang berhadiah jutaan rupiah, hingga sinetron yang menampilkan perubahan wajah selebritis kita yang biasanya seronok untuk satu bulan menjadi tertutup jilbab plus wajah cantik yang menggoda, serta jalan cerita yang dipaksakan nyambung dengan suasana ramadhan dan akan berakhir happy ending dimasa lebaran. Semua hiburan tersebut memang sangat membantu, kaum muslimin muslimat meringankan rasa haus dan lapar saat berpuasa terlebih saat musim kemarau seperti saat ini.

Seandainya kita menyadari, semua yang dinikmati di depan layar televisi adalah tontonan kehidupan semu dan kebohongan, tentu kita tidak akan mau dibodohi lagi. Seandainya kita mengerti menyaksikan sinetron ramadhan misalnya, hanyalah menonton peristiwa pertaubatan aktor antagonis dan penderitaan aktor protagonis selama sebulan, mungkin harusya kita sudah bosan melihat tayangan tersebut.

Alangkah baiknya jika kita mengisi dengan yang lebih baik. Saat ini teknologi semakin canggih, murah dan terjangkau, dengan mudah kita bisa mendengarkan MP3 yang berisi pengajian ayat – ayat suci Al Qur’an. Atau sedikit berkontemplasi dengan memperpanjang waktu sholat dan pasca sholat. Mencoba pulang lebih cepat agar bisa berbuka bersama atau sholat berjamaah dengan keluarga.

Ramadhan adalah berkah, berkah bagi siapa saja yang mau mencarinya, baik materi atau ruhani – duniawi atau ukhrowi, termasuk para pemeran sinetron yang terpaksa berubah image entah demi Kebaikan Ramadhan atau Kebaikan Rupiah.

Ramadhan juga berkah bagi Mbok Minah, seorang papa yang hidup sebatang kara di kolong jembatan dimasa tuanya. Serta Berkah bagi George seorang mualaf yang ingin menikmati nuansa tersembunyi dari 30 malam yang tidak pernah diketahui dimana kemuliaan tersebut berada. Juga berkah untuk si Pepeng, penjual kembang api dan petasan jangue yang hanya meriah di saat Ramadhan meskipun dibayang – bayangi ketakutan akan razia, Ramadhan juga kegembiraan sikecil yang berlari – lari saat ratusan jemaah sholat Tarawih (diminggu pertama) memulai ritualnya.

Semoga tanpa kebimbangan atau pemahaman yang salah Insya Allah kita memulai puasa dengan kebaikan. Barakallah Ramadhan…Marhaban ya Karim...


(Makassar, 80907)

07 September 2007


Tak ada angin dan tak ada tanda - tanda, tiba - tiba istriku tersayang nggerutu, " ini Malaysia gimana sih, gak takut kualat sama Indonesia", peristiwa ini yang jarang terjadi dalam 5 tahun pernikahan kami. Rupanya Istriku tengah mengomentari berita tentang jomplangnya hubungan Indonesia dengan Negri Jiran yang tengah tayang di salah satu stasiun TV. Menurut istriku, sudah berapa kali negri ini di zhalimi tetangga sendiri. Mulai dari TKW, sipadan ligitan, perbatasan hingga terakhir aksi PREMAN POLISI MALAYSIA.


Luar biasa memang, istriku yang manis dan penyabar ini sontak menjadi sinis dan marah terhadap sesuatu yang tidak langsung dialaminya. Untung kedua anak kami tengah tidur pulas, sehingga tidak perlu melihat perubahan ekspresi seorang ibu yang lembut menjadi garang.


Sebagai suami yang baik, tentu tugas saya adalah menenangkan kegundahannya dengan sedikit strategi sepertinya mendukung penyataannya. "Tenang aja bu... ntar 20 tahun juga mereka gak ada apa - apanya, yang penting pemerintahan kita berubah dulu".

************************************************************************************

Di Makassar, aksi penolakan terhadap kekerasan polisi malaysia kali ini memang tidak seheboh saat ramainya sengketa pulau ambalat. Mahasiswa di kota ini yang biasanya garang dengan puak melayu, tiba - tiba kaaaleeem tanpa suara yang berarti. Kondisi ini jelas membingungkan kami para jurnalis yang ingin melihat adanya sedikit empati terhadap saudara kita yang dianiaya di Malaysia.


Malaysia lebih maju dari Indonesia memang sesuatu yang tidak dapat dipungkiri, tapi kekerasan terhadap warga Indonesia, juga tidak bernurani. Sebagai orang Jawa, saya selalu percaya dengan Filosopi masyarakat jawa, hidup itu "cakra manggilingan" artinya kadang di atas kadang di bawah.


Sebagai orang kecil terkadang saya sangat menikmati posisi sebagai terzhalimi, sehingga saat itu menurut Rasulullah SAW tidak ada batas antara saya dengan Tuhan yang akan mengabulkan semua doa saya. Sebagai muslim saya sangat percaya akan hal ini, seandainya saja seluruh rakyat Indonesia saat penzholiman itu terjadi dan mengganti kemarahan dengan Doa, mungkin semua akan berubah dan bisa saja berbalik.


Kemarahan terkadang membuat logika kita tidak berfikir dengan baik. Saat terjadi sengketa Ambalat, Mahasiswa malaysia yang tengah belajar di Universitas Hasanuddin Makassar di razia warga. Padahal seandainya mereka kita berikan pemahaman yang baik tentang Indonesia bukan tidak mungkin dalaam 10 -20 tahun mendatang merekalah pemimpin malaysia yang akan mengubah cara pandang negrinya terhadap Indonesia.


Indonesia dipandang remeh oleh negara tetangga, karena kita sendiri tidak becus mengurus diri. Politisi meributkan kepentingan atas nama rakyat, kekerasan aparat terjadi dimana - mana, pengangguran yang sulit dikendalikan, dll, membuat rasa percaya diri pemimpin negara ini semakin rendah. Bagaimana mau menentang negara lain, kalau negara ini tidak mandiri dan membutuhkan dukungan negara tetangga.


Bagi saya, peristiwa ini adalah pelajaran yang sangat mahal. Karena saat ini kami tengah membesarkan 2 orang anak yang kami harapkan menjadi Manusia terbaik di negri ini. Kekerasan Jiran cukuplah berhenti saat ini saja. Tidak perlu terjadi pada anak - anak kami dan anak - anak negri ini. Dengan segala keyakinan, Indonesia kelak akan menjadi negara terbaik dan lebih maju dari tetangga kita.... Insya Allah


(Makassar, 070907)

06 September 2007


Kehidupan memang selalu mencari pembenaran untuk mengalah atau mengalahkan, paradoks ini berlaku hampir disemua sisi perjalanan manusia sejak lahir sampai terbaring di lahan seluas 2 x 1 meter persegi.

Daeng Nasri, merupakan salah satu aktor figuran dengan tidak nyaman, harus merasakan betapa ironisnya manusia yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup namun harus mengorbankan satu sumber penghidupan lainnya

Setio sore menjelang Nasri termangu membayangkan beberapa petak kebun tomat garapannya di salah satu sudut kota Makassar, harus berubah fungsi menjadi ratusan rumah yang tumbuh dengan gagahnya. Sementara dalam hitungan dua bulan puluhan hektar kebun tetangganya sudah menemui ajalnya lebih dulu berubah wujud menjadi pemukiman RSSSS (Rumah Sangat Sangat Sederhana Sekali), yang memiliki nilai komersil berpuluh - puluh kali lipat saat lahan tersebut belum bertransformasi wujudnya.
Bayangkan, untuk bangunan seluas 21 m2 dengan tanah seluar 60 m2, berharga > Rp.70 juta Cash atau > Rp. 90 Juta (kredit 10 tahun - untuk orang kecil). Padahal lahan tersebut awalnya hanya senilai Rp. 110 ribu per meter persegi alias Rp 6,6 juta untuk 60 m2. Dengan bangunan tipe 21 harusnya tidak melebihi 30 juta rupiah... Bukan main.
Konversi lahan ini, terjadi secara serampangan bukan cuma di Makassar. Tapi hampir diseluruh wilayah republik ini. Tata ruang kota yang telah direncanakan berpuluh tahun sebelumnya berubah drastis dengan alasan kebutuhan pemukiman, pertambahan penduduk dan yang pasti dengan menyembunyikan Faktor Kepentingan pihak penguasa. Akibatnya mudah diduga, daerah pertanian, gunung dan bukit yang juga berperan besar sebagai penyelamat dengan menyerap ribuan bahkan jutaan metrik ton air, akhirnya harus kehilangan "Peran utamanya" sebagai pelindung dari bencana banjir, longsor, kelaparan dan kekeringan.
Daeng Nasri tidak sendiri. Masih banyak petani, penjaga lahan yang bernasib sama. Akibat keterpaksaan atau dipaksa, mereka harus merelakan dengan tragis berubah dari petani menjadi pedagang atau paling apes menjadi pengangguran.
Sebuah evolusi budaya dan kebiasaan, yang tidak pernah mereka bayangkan, akan terjadi dengan hanya menjual sepetak ladang tomat yang selama ini mampu menjadi penyambung hidup.
(Makassar, 050907)

Categories

Pages

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget