24 September 2012

My Twitter : @kabulindrawan

Kali ini saya tidak akan banyak menulis, karena gambar yang ingin saya tunjukkan sudah lebih banyak berbicara mengenai Presiden Iran Ahmadinejad yang berhaji dan hanya menggunakan mobil bak terbuka. Satu hal yang saya ingin katakan "DICARI PEMIMPIN YANG BERSAHAJA"







13 August 2012

My Twitter : @kabulindrawan


(tulisan yang sama dimuat dalam metrotvnews.com)

"Khalil - Khafi, jangan dimakan !!! Haram !!!...Bayar dulu, baru mencoba" ucapan spontan pada kedua anak saya, membuat beberapa orang disekitar kami terkejut. Peristiwa ini tejadi  beberapa minggu lalu, ketika kami tengah berbelanja di sebuah swalayan. Waktu itu banyak orang mengerumuni sebuah bak yang penuh dengan buah kelengkeng.Teguran saya pada mereka tak ayal, membuat beberapa orang tersenyum dengan ulah si kecil. Namun ada juga yang terkejut, malu, bahkan terkesan marah pada kami.


Lantas beberapa pembeli ada yang memilih lalu memasukkannya kedalam kantung  plastik  untuk dibayar. Namun tidak sedikit pula yang tetap mencicipi, meskipun disana sudah terpampang  tulisan dilarang mencoba.  Sebetulnya apa yang kami lakukan terhadap Khalil maupun si bungsu Khafi bukan soal gaya - gayaan atau sok bersih. Melainkan upaya kami (saya dan istri) menanamkan kejujuran pada anak – anak kami agar membenci kecurangan dan kelicikan sekecil apapun, apalagi terhadap  ”KORUPSI”.


**


Eduard Shevardnadze Mantan menlu Uni Sovyet serta mantan Presiden Georgia pernah mengatakan," Eradicating corruption is not enough to sustain a country".  Shevardnadze benar, pemberantasan korupsi tidak akan pernah cukup mampu untuk mempertahankan Negara. Kenapa? karena pemberantasan hanya berada pada tataran puncak es, bukan akar dari semua permasalahan korupsi.


Lho, lalu dimana hubungan antara mencicipi buah kelengkeng dengan  korupsi ???


Mencoba buah kelengkeng memang hal yang sepele bagi segelintir orang, alasannya pun masuk akal, “tidak ingin membeli buah yang tidak berkualitas”. Tak ada yang salah dengan alasan tersebut, tapi menjadi tidak tepat rasanya jika sudah ada peringatan dari sang pedagang “MOHON TIDAK MENCICIPI” atau “DILARANG MENCOBA”.


Lagi pula, (misalnya) kalau tidak mau rugi atau merasa dibohongi karena membeli buah yang tidak manis  ya tidak usah membeli di tempat tersebut. Beli saja buah yang sama di tempat lain yang memperbolehkan calon pembelinya untuk mencicipi.


***


Ketika sebuah larangan disampaikan, mau mencoba 1 butir atau 1 keranjangpun hukumnya sama –TERLARANG . Terkadang sebagian dari kita melupakan hal sepele mengenai aturan boleh atau tidak boleh. Padahal justru inilah awal dari semua pelajaran yang salah atau teladan yang tidak baik bagi anak – anak. Secara tidak langsung mereka telah melihat contoh menyimpang dari orang yang lebih tua.


Semua malpraktek tersebut tersimpan dalam “subliminal” sang anak.. hingga  membekas dalam otak mereka.  Sampai pada akhirnya kesalahan pun menjadi sesuatu yang umum karena merasa dibenarkan, ada yang ditiru. Tak heran banyak koruptor merasa tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa??? karena bagi penjahat seperti ini, korupsi adalah kelaziman yang sudah terbentuk dari  hal yang remeh - temeh semisal mencicipi kelengkeng yang dilarang.


Kesadaran membenci “korupsi” sebenarnya sudah tertanam dibenak masyarakat Indonesia.  Mereka mengutuk, mencaci tak jarang mengharapkan penderitaan untuk tujuh turunan sang koruptor. Namun pada prakteknya terkadang pembiaran justru terjadi pada diri kita sendiri, entah disadari atau tidak. Seperti  hal - hal sepele semisal tidak jujur dengan uang kembalian karena hanya recehan  Rp 100, Rp 200 atau Rp 300,- mencicipi 1 atau 2 buah kelengkeng yang sebetulnya terlarang hingga mengurangi takaran timbangan.


Contoh kongkrit betapa hal sepele miliki daya rusak dashyat adalah,  banyaknya warung kejujuran yang didirikan di berbagai tempat di Indonesia mulai dari SD, SMP, SMU bahkan di Institusi pemerintahan “GAGAL TOTAL” alias merugi. Masalahnya jelas, satu orang mengambil sedikit jajanan atau tidak membayar tanpa merasa bersalah. Padahal cara yang sama juga dilakukan banyak rekan – rekannya, akibatnya adalah “KEBANGKRUTAN”.


****


Apa yang saya terapkan pada anak – anak kami adalah bentuk lain, membangun alam bawah sadar (subliminal) mereka agar terbiasa menolak setiap kesempatan melakukan kecurangan atau korupsi sejak dini. Menurut penelitian  Rosnick et al  (1992)  dalam penelitiannya  “Subliminal Conditioning of Attitudes”  menyebutkan hasil  pemetaaan pada otak manusia menunjukkan bahwa rangsangan subliminal  yang konsisten berupa teguran atau nyanyian akan mengaktifkan daerah tertentu pada otak manusia meskipun tidak disadari.


Jadi, dengan membiasakan melarang anak – anak untuk tidak mengkonsumsi yang bukan menjadi haknya atau mengambil sesuatu yang tidak diperbolehkan, secara tidak langsung kita sudah menanamkan sesuatu yang benar ke dalam alam bawah sadar mereka. Semoga saja semua bisa terimplementasikan secara utuh dan baik ketika mereka beranjak dewasa.


Saya teringat dengan kisah seorang kakek yang tengah sekarat dan menyesal karena gagal memenuhi ambisinya membersihkan negaranya dari koruptor. Ia bahkan gagal membina keluarga dan membimbing anak - anaknya yang ternyata juga menjadi koruptor.


Di akhir hayatnya sang kakek berujar, "seandainya saya memulai perubahan dari diri sendiri, kemudian anak – anakku, istri dan keluarga besar, mungkin saja caraku akan dicontoh tetangga, lalu ditiru oleh lingkungan, akhirnya menular pada  masyarakat". Sayangnya penyesalan tinggallah penyesalan dan akhirnya tidak menghasilkan apapun.

19 April 2012

My Twitter : @kabulindrawan




Kepanikan warga akibat gempa Aceh 11 April 2012, membuat saya teringat kembali akan peristiwa 8 tahun lalu. Dede Mirwanda, saya tidak pernah lupa ketika menemukan anak ajaib ini disebuah tempat yang sama dengan nama saya “Kabul” di Deli serdang, Sumatera Utara. Cerita ini merupakan sequel dari penugasan saya sebagai FP dalam tragedi “Indonesia Menangis” – gempa tsunami Aceh 2004.

Senin siang 3 Januari 2004, sebuah perintah datang dari Jakarta. Saya diminta mencari seorang anak yang bernama “Dede Mirwanda” di Sumatera Utara. Tidak banyak petunjuk yang bisa membimbing saya kepada anak ini, selain dede adalah anak angkat Presiden yang menolak diajak ke Jakarta serta ia sudah diterbangkan ke Medan - Sumatera Utara.

Selanjutnya menjadi tugas saya untuk mencari anak istimewa ini diantara jutaan warga Aceh yang menyelamatkan diri ke Sumatera Utara. Wahhhh.... bagaimana caranya mendapatkan anak ini ? jangan kan data lengkap, wajahnya pun belum pernah saya lihat.

****

Langkah pertama saya dan rekan – rekan biro Medan, adalah mendatangi seluruh institusi resmi dan tidak resmi yang menangani para pengungsi Aceh. Semua menjawab dengan makna yang sama meski dengan kalimat berbeda seperti, “maaf dik tidak tahu” atau, ” tidak ada dalam data base kami” hingga yang menyenangkan hati, “ oke kalau dapat, nanti kami kabari”. Meski demikian saya tidak boleh putus asa, saya tetap meninggalkan nomor telepon dengan harapan jika sewaktu – waktu ada yang mengetahui keberadaan anak tersebut.

Seketika saya ingat, doa orang puasa pasti diijabah Tuhan sehingga saya memohon segala kemurahanNya dari segala informasi yang tersembunyi. Keajaiban itu datang, sekitar pukul 4 sore saya menerima sebuah telepon dari orang yang tidak dikenal. Ia mengatakan, “Dede Mirwanda ada di Batang kuis Deli Serdang, di rumah lurah Nuraini”.... belum sempat saya mengucapkan terima kasih, telepon sudah terputus.

 Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju lokasi yang dimaksud. Pengalaman lucu pun terjadi, beberapa kali saya bertanya dimana rumah lurah Nuraini pada warga Batang kuis. Jawabnya, “Gang Kabul...”  sempat saya berprasangka mereka mengolok – olok saya karena Id card yang tergantung dileher dengan jelas tertulis nama saya “Kabul Indrawan”.

****


Sekitar pukul 6:30 an sore saya sampai ketempat yang dituju dan ternyata disana terdapat sebuah papan petunjuk “Jln Kel. Kabul” atau Jalan keluarga Kabul. “Wah, kejutan saya menemui anak yang hilang dalam gang saya sendiri”, pikirku.

Dede memang ditampung oleh keluarga lurah Nuraini yang baik hati. Ibu Nuraini sendiri tidak pernah menduga kalau Dede Mirwanda ternyata adalah anak angkat Presiden. Ia juga tidak pernah mengharapkan menjadi popular dengan mengangkat anak yatim piatu korban bencana Tsunami Aceh, yang ada dibenaknya adalah kemanusiaan atas nama sesama makhluk Tuhan.

Pertemuan dengan Dede, mengakhiri perjalanan panjang kami seharian, mencari satu pengungsi anak yang istimewa diantara jutaan pengungsi lainnya. Peristiwa ini pun terjadi bersamaan dengan kumandang adzan Maghrib, Dede seakan menjadi pelepas dahaga dan ta’jil terindah dari semua shaum sunnah yang pernah saya jalani ketika itu.

20 March 2012

My Twitter : @kabulindrawan


“Economics explains almost everything”, kalimat ini terlontar dari Robert Frank seorang profesor ilmu ekonomi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Frank memiliki alasan mengapa ilmu ekonomi bisa menjelaskan berbagai hal, terlebih ia sangat mendalami behaviour economics

Tetapi saya tidak ingin bercerita mengenai behaviour economics dengan segala kompleksitasnya. Melainkan kesederhanaan bagaimana sebuah ilmu ekonomi mampu menjelaskan “hampir” segala sesuatu yang terjadi di atas muka bumi ini yang ternyata sarat dengan motif ekonomi tak ubahnya puzzle – puzzle ekonomi.

Misalnya saja kenapa seorang bayi berusia 1 tahun yang duduk di kursi mobil harus menggunakan safety belt, bahkan beberapa diantaranya memakai kursi khusus bayi? sedangkan jika bayi dengan usia yang sama naik pesawat terbang, kita tidak akan mendapatkan kursi khusus bayi dengan sabuk pengaman. Tak jarang  hanya diberikan semacam ikat pinggang sebagai pengganti sabuk pengaman.

Jawabnya bisa berbagai macam mulai dari ketiadaan tempat di pesawat, akan menambah beban pesawat atau bahkan yang lebih ekstrim pesawat tidak di disain untuk menerima penumpang bayi. Tidak ada yang salah dengan semua ini, namun economic puzzles justru akan memberikan sudut pandang yang berbeda.

Alasan beda perlakuan terhadap bayi usia 1 tahun ini terjadi karena angka kecelakaan mobil jauh lebih tinggi yaitu 1 kejadian dari 10.000 kendaraan. Sedangkan kecelakaan pesawat hanya 1 kejadian dari 3.000.000 penerbangan. Atau dengan kata lain, naik pesawat jauh lebih aman ketimbang naik mobil.

Sehingga  banyak maskapai penerbangan tidak menyediakan kursi khusus bayi lengkap dengan seatbelt. Apalagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan kursi bayi dalam sebuah pesawat cukup mahal. Selain itu, orang tua umumnya  lebih memilih bayi usia 1 tahun sebagai kategori penumpang tambahan, karena dibeberapa maskapai hanya dikenakan biaya 10% dari harga tiket dewasa.

Kasus bayi dengan sabuk pengaman di pesawat dan di mobil, hanyalah satu dari sedemikian banyak masalah keseharian yang sebenarnya sarat dengan motif ekonomi serta sangat menarik dicermati dengan bahasa yang sederhana tanpa harus melibatkan persamaan – persamaan rumit ala ilmu 

Seperti halnya apa hubungan antara musik rock atau heavy metal dengan ekonomi ? mengapa harga tiket pesawat Medan – Meulaboh lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat Jakarta – Singapore yang jaraknya lebih jauh, atau kenapa tombol ATM selalu dilengkapi dengan huruf braille? serta masih banyak lagi.

INILAH HIDUP... SEMUA ADALAH PUZZLES... ATAU LEBIH TEPATNYA ECONOMIC PUZZLES

06 October 2009

My Twitter : @kabulindrawan

Hari ini saya kembali menerima sms mengenai waktu gempa di Sumatra dan kaitannya dengan Al-Qur’an. Begini bunyinya “.... gempa Sumbar pukul 17:15 dan 17:58, gempa di Jambi pukul 8:52...” coba lihat di Al- Qur’an.
Saya tertegun...”Masya Allah arti dari Surah 17 (al-israa) dan 8 (al Anfaal) luar biasa mengejutkan saya. Semua bercerita soal azab yang diterima kaum Nabi Nuh dan hukuman bagi Fir’aun laknatullah.”
Waduh... kok gitu ya... orang mencoba mengkait – kaitkan bencana dengan Al Qur’an... assosiatif insinuatif (dipaksakan terkait ya terkaitlah). Lalu muncul pertanyaan mendasar... apa iya ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang tewas dan tertimbun di Sumbar dan jambi adalah hamba Allah yang mungkar dan masuk kriteria layak azab????
Bagaimana... apakah layak azab 300 orang warga lembah gunung tigo yang tertimbun longsoran, atau puluhan anak di Pariaman selatan yang tertimbun di sebuah surau padahal saat itu mereka tengah mengaji - tengah mengagungkan nama Allah.

Kemudian ada yang mengkaitkan gempa tersebut dengan pelantikan 550 anggota DPR baru, yang dinilai pemborosan dan menzholimi banyak orang, sehingga Allah memberi peringatan dengan gempa di Sumbar.
Lho kok?? Allah kan Maha Adil, Maha Rahman dan Rahim... kalau yang zholim DPR ,lantas kenapa Sumbar yang diazab??? Kenapa tidak DPR saja yang ditenggelamkan ke tanah seperti halnya Qarun laknatullah atau ambrukkan saja gedung yang penuh dengan kemungkaran tersebut...
Kenapa tidak berfikir bahwa ratusan / ribuan korban gempa tersebut justru di muliakan Allah dengan dicabut nyawanya agar tidak menjadi korban keZholiman. Diangkat derajatnya oleh Allah agar disegerakan pada Surganya yang luar biasa Indahnya dari pada berlama-lama di dunia daripada menderita di dunia.
Tidakkah kita berfikir, jangan – jangan yang tersisa saat ini adalah orang-orang yang mungkar. Dan kini tengah menunggu Azab Allah yang pedih untuk di hancurkan dengan sehancur –hancurnya ??? (naudzubillahi min zallik – semoga Allah menyelamatkan kita).

Bayangkan gempa di Tasik dengan besaran 7,5 SR saja cukup menakutkan warga Jakarta, bahkan sebagian gedung rusak ringan. Padahal jarak pusat gempa cukup jauh dari ibukota. Bagaimana Kalau Gempa lagi dengan besar 12 SR??? Seperti apa ibukota yang penuh dengan gedung bertingkat ini???
Jadi ingat lagu Opick
“Allah Engkau dekat, Penuh kasih sayang
Takkan pernah Engkau biarkan hambamu menangis
Karna kemurahanMu...Karna Kasih sayang Mu...”

(Bekasi, 5 Oktober 2009)

03 March 2009


My Twitter : @kabulindrawan

"Alamak....hey badut badut kecil, kalian apakan stick golf ayah..." tidak ada satupun diantara 2 anak ku yang menjawab, mereka hanya tertawa cekikikan. Bahkan sibungsu Khafi Dheva dengan santainya menjadikan big bertha kesayanganku sebagai pacul....ampuuuun deh.

"Ayah ayo main golf... mas Khalil mau main golf ayah..." bujuk Khalil si barep. "Ok lah...". jadilah Sunday lovely morning kami semua pagi itu seperti meneer - meneer bermain golf halaman samping rumah yang hanya berukuran 5 x 10 meter persegi, dengan panorama pohon keladi, jambu setinggi 15 senti dan pohon duren yang juga masih kecil serta beralas rumput Gajah (bukan rumput golf), amat jauh dari standar PGA... but chuek ajalah...

Dengan bekal stick golf dan bola plus nyeker, minus kaos polo. Permainan kami tidak bisa tergolong nyaman, karena Khafi selalu berusaha terlibat memukul bola yang akan kami gunakan....


"Adek Khafi menyingkir, mas mau suwing setik golf" wah gawat kalau khalil udah pakai istilah suwing alias swing, naga naganya bakalan ada budget tambahan buat golf driving nih... pusing suwing...

Tapi... ya sudahlah... yang penting hepi... demi anak, apapun dilakukan selama halal dan thoyibah (gitu katanya pak ustad), tak perduli stick ku penuh tanah yang penting anak anak bisa main dengan ayahnya yang sedang jenuh dengan aktivitas kantor he he he...

.....you are the sun shine in my life
you are the sun shine in my lifeeee....

(bekasi, 1 Maret 2009)

27 February 2009


Lelah sekali saya hari ini, entah kenapa pekerjaan mulai menjadi sebuah rutinitas yang luar biasa menjemukan. Padahal sudah berbagai cara kulakukan untuk membuang rasa bosan dan jenuh yang sudah sampai di ubun ubun ini.

Pulang ke rumah merupakan ritualitas yang amat ditunggu. membayangkan Khalil membuka pintu dan berteriak "Ayah...." sambil lompat kegirangan, serta Khafi yang lucu mengekor dibelakang tertawa gembira dan berceloteh "ayah ayah...tu wa ga pat ma nam ju pan nam ma...." duh indah nya... hidup ini

Tapi sayang sekali, dua matahari kecil kami rupanya sudah terlelap. Saya hanya bisa menatap dua wajah lucu tak berdosa ini cukup lama sebagai pelepas lelah....ah...bola mata ku.

Selamat Tidur Malaikat kecilku, kami mencintaimu, Semoga Allah selalu menyayangi kalian

****************************

Pejamkanlah rebahkanlah dirimu

Lepaskanlah segala yang tlah kau lewati
Bermimpilah Mimpi tentang diriku

Jadikanlah sebagai bunga tidurmu yang indah
Dan tidurlah sayang

Biarkan dirimu merentang melayang

Dan aku disana menunggu dirimu di gerbang bersama

Sampai esok tlah menjelang
("dan Tidur lah - Andra and The Backbone")


(Bekasi, 25 Februari 2009)

31 August 2008

Memupuk dan mengkondisikan sepertinya memang menjadi bagian tugas orang tua. Pengkondisian itulah yang tengah saya lakukan dengan cletukan anak pertama kami, Khalil Acyuta Hafiidh Indrawan alias Khalil.

Cerita beberapa malam yang lalu saat browsing sejumlah kampus - kampus top dunia dikamar tidur, saya disapa dengan sebuah pertanyaan manis Khalil, "Apa itu ayah.." "Lambang Universitas nak" jawabku. "Universitas apa ayah??" tanyanya lagi "Harvard, ini sekolah terbaik di dunia nak..." "Khalil mau sekolah di Harvard Ayah" katanya, dengan santai Khalil pun menuju ke tempat tidur sambil memegang pesawat mainannya.

Diapun kembali asyik berimajinasi dengan sejumlah pesawat mainan yang umumnya sudah tidak layak disebut pesawat lagi tapi lebih cocok disebut boat atau rongsokan... yang menurutnya pesawat meledak kena roket....

Sekelebat kualihkan pandangan rupanya Istri tercintaku sudah terlelap karena keletihan bekerja dan ngelonin si bungsu Khafi Dheva Adhzeem Indrawan (panjang ya nama anak kami).
"ya nak kamu pasti bisa...Mudah mudahan kami mampu...Apapun meskipun itu mungkin hanya celetukan mu" bathin ku. Tapi mulai saat itu kalau ditanya "Khalil mau sekolah dimana??" dia pasti menjawab dengan tegas "Harvard"

Pelihara terus cita - citamu sayangku... tugas ayah membimbing dan menyediakan semuanya demi pendidikanmu

Ahh selalu saja terngiang kata - kata khalil "Harvard ayah...harvard..."
(Jakarta, 31 Agustus 2008)

28 August 2008

Alhamdulillah, Insya Allah dalam waktu dekat Ramadhan akan datang menjamu kami sekeluarga & kita sebagai umat Islam dimanapun di dunia ini. Ini adalah ramadhan bersama saya dan istri untuk ke 7 kalinya, ke 6 kalinya bersama Khalil dan ke 2 kalinya juga bersama Khafi.

Secara Matematis ada irisan kenikmatan yang kami rasakan bersama saat berbuka dengan anggota keluarga baru. Ada keindahan saat membayarkan Fitrah ke dua anak kami, yang menyadarkan saya dan istri bahwa kami mulai menua.

Masih di Bulan Ramadhan ada kenangan manis saat di Makasar ketika Khalil kecil tidak bisa tidur dimalam hari, sehingga harus saya ajak keliling kota hingga ke Masjid Al Markaz dengan mobil kantor lengkap dengan bantal dan guling hingga ia terlelap.

Kenyamanan berbuka bersama sahabat, teman, saudara di Biro Makassar yang sempat saya pimpin selama 3 tahun. Semua kebesaran yang membuat saya takjub akan unik nya Ramadhan.

Selamat datang Ramadhan, Selamat datang kebaikan
Semoga Allah menempatkan kembali kami dalam kezuhudan
Semoga Allah mengizinkan kami menikmati terdiamnya waktu
Semoga Allah memperlihatkan kembali ketundukan dedaunan
Semoga Allah memberi kami kembali kesempatan merasakan sesaknya dunia

Semoga Allah Kembali Mengijabah Doa - doa kami seperti masa itu yang penuh rahasia

Semoga Allah Menyelamatkan Kita Semua....

(Jakarta, 28 Agustus 2008)

Sahabatku Budi Zulkifli, Sayang sekali kita tidak bisa menikmati melihat hilal bersama seperti waktu - waktu yang lalu, saya betul betul merindukan masa itu.

26 August 2008


Sudah 3 hari cuti ini saya lebih banyak berkebun dan membaca. Salah satu bacaan favorit saya adalah National Geographic. banyak hal yang saya kagumi dari majalah mendunia ini, seperti maturitas, dokumentasi gambar maupun naskah dan yang paling penting Jurnalisnya -Bukan main Outstanding - ibaratnya kalau 20 jari kaki dan tangan saya adalah jempol semua, pasti akan akan saya acungkan semuanya.

Selain itu ada yang menggigit di National Geographic edisi Agustus kali ini (Sori sudah hampir sebulan baru sempat baca lagi). Edisi kali ini sebagian isinya adalah artikel yang telah termuat pada national geographic (international) pada tahun 1955 – Tentang 5 tahun Indonesia merdeka- judulnya Sang Raksasa Muda. Gambarnya Otentik, Orisinil dan yang penting isinya membawa kita melayang ke Negri ini ketika baru merdeka 53 tahun silam (dari pemuatan), dan salah satu kutipan yang membuat saya terharu serta bangga sebagai Orang Indonesia (saya gak mau pakai kata bangsa Indonesia) adalah :

“ Di Celebes yang telah dinamakan kembali menjadi Sulawesi oleh Republik , untuk pertama kalinya kami diresahkan oleh masalah keamanan di Indonesia. Jalan yang menyusuri sisi kanan bandara Makassar menjadi tidak aman setelah 9,5 kilometer: perampok dan pemberontak yang salin memperebutkan “wilayah kekuasaan” seringkali menyerangnya.

Sementara di sepanjang pelabuhan Makassar yang bersebelahan dengan pasar rotan terbesar di Indonesia, kami menyaksikan kapal-kapal tertambat saling berdampingan, mengingatkan siapapun pada keahlian pelaut Sulawesi.

Sebelum caravel-caravel Belanda atau Portugis pertama memasuki perairan ini, perahu-perahu besar Makassar telah berlayar sepanjang pesisir Cathay menuju Formosa dan ke arah barat ke Madagaskar, bernavigasi menggunakan bintang dengan akurasi yang mengagumkan. Dengan lengkungan halus, dek yang mulus, tiang yang tinggi dan dua dayung panjang yang dipasang di kedua sisi belakang kapal sebagai kemudi bawah air, perahu tersebut merupakan kapal yang luar biasa tangguh...” (Hal. 28, National Geographic Indonesia – Edisi Agustus 2008)


Mungkin karena saya sempat tinggal ditempat tersebut selama 6 tahun (dalam 2 periode terpisah) yang membuat saya merasa mengenal apa yang diceritakan Beverley M. Bowie & J Baylor Roberts dalam edisi tersebut.

Saya membayangkan Pelabuhan yang besar adalah paotere atau jalan yang penuh begal disekitar perintis yang masih hutan rimbun...De Ja Vu ... Kota ini memang mengagumkan manusia nya yang luar biasa ramah membuat saya selalu rindu akan Makassar. Saya juga sempat berfikir, kenapa Orde baru sedemikian IDIOTNYA mengubah nama kota Makassar menjadi Ujung Pandang??? He he he...

Ada juga foto yang memuat suasana Laut dengan Siluet Kapal Phinisi nya yang otentik dan orisinil bukan reka ulang apalagi rekayasa, bayangkan ketika Pelaut Makassar (bukan nelayan ecek –ecek) saat itu tidak pernah kebingungan dengan BBM yang baru diproduksi Indonesia dengan lifting 50 ribu barel per hari padahal sekarang 950 ribu barel aja masih kurang.

I Proud with Makassar, Saya juga beruntung anak keduaku terlahir di kota ini.... Subhanallah

(Bekasi 26 Agustus 2008)

18 August 2008

Hidup memang seperti dua sisi mata uang, “satu entitas tapi saling bertolak belakang”. Ada cerita kesenangan yang sama meskipun dengan subjek yang berbeda.
Seperti yang kami alami akhir pekan lalu saat saya bersama istri dan kedua anak kami membuang penat di salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi.
Senjapun menjelang kami harus pulang dengan menaiki satu satunya sepeda motor bebek yang kita miliki, tidak ada alasan kegembiraan menghalangi kewajiban kami untuk menjemput Sholat Magrib ... Kita pulang melintasi sepanjang jalan Pekayon yang saat itu tidak terlalu ramai.
Romantika pun terjadi, Khalil duduk dimuka, lalu si bayi Khafi duduk diantara saya dan istri...Indahnya...

Tiba – tiba dari arah berlawanan melintas keluarga pemulung (Insya Allah dengan niat pulang yang sama seperti kami), sang kakak naik di gerobak yang tengah ditarik bapaknya, sedangkan si bungsu digendong sang ibu sambil berjalan kaki. Sepertinya mereka terlihat sangat gembira dengan perolehan hari itu.

Luar biasanya lagi, selain sama jumlahnya dengan keluarga kami, kedua anak mereka pun sama – sama sebaya dengan Khalil dan Khafi.

Keluarga pemulung itu bergerobak, kami bersepeda motor. Mereka pulang bekerja, kami pulang dari pekerjaan menghibur anak. Namun kami sama bergembira dengan apa yang telah Tuhan berikan saat itu.

Allah memang maha sempurna, sepertinya Dia memberiku satu lagi pelajaran saat pulang ke rumah...Fabbiayi alai Rabbikuma Tukadziban,... Fabbiayi alai Rabbikuma Tukadziban... Fabbiayi alai Rabbikuma Tukadziban ...Maka nikmat Tuhan mu yang manakah, yang engkau ingkari...Masya Allah hamba nyuwun ngapura Mu...hamba mohon ampun atas kekufuran kami ya Rabbi...

Semoga Allah berkenan melimpahkan kesejahteraan pada keluarga pemulung itu... Amien

(Bekasi, 17 Agustus 2008)

11 April 2008

"Assalamualaikum, Indonesyie? ...."

Hai my friend how are u? Sebuah suara yang terkesan sok akrab menyapaku sesaat pasca tawaf di masjidil haram. "Your name?" Tanya nya, "my name is kabul indrawan. And your name?" "Ahh my name is Kahramaen. I am turkish...", Agak terbata - bata tapi menurut kadar telinga dan masih tergolong dapat diterima telinga dan dicerna akal dengan mudah.

Setelah itu menggelindinglah seluruh pembicaraan kami hingga menyentuh keluarga, umur bahkan tsunami. Luar biasa warga Turki ternyata mengetahui adanya tsunami di Indonesia meskipun tidak mengetahui dengan persis berapa jumlah korban yang tewas akibat gelombang setinggi belasan meter tersebut

Menurut Kahramaen - saya adalah seorang pria yang sangat cepat berproses karena dalam usia 32 tahun telah menikah dan memiliki 2 anak laki - laki juga telah melakukan umroh. Maklum bagi warga Turki, ritual semacam umroh hanya dilakukan kaum Tua atau wanita.
Sedangkan pandangannya - saya adalah seorang pria dengan usia yang tergolong sangat muda untuk berpikir ruhaniah, ha ha ha... Padahal di Indonesia, jangankan seusia saya menunaikan umroh, balita aja ada yang naik haji.

Apapun, pembicaraan dengan kahramaen adalah perbincangan yang sangat menarik dan tidak terlupakan. Bayangkan, 2 manusia yang tidak saling mengenal sebelumnya, berbeda negara, suku, dipertemukan dalam sebuah ritual di Masjidil Haram. Subhanallah...

(Depan Ka'bah - Masjidil Haram, 10 April 2008)
"oe oek oek...” "whaaa whaaa..." tangis bayi terdengar sahut menyahut, menjadikan Masjidil Haram tak ubahnya sebuah lokasi konfrensi antar bayi sedunia. Dimana mereka memulai suatu dialektika untuk memperkenalkan diri antara satu bayi dengan bayi lain yang berbeda ras namun satu religiusitas.

Pikirku ternyata tidak cuma di Indonesia saja, namun hal ini juga terjadi ditempat seagung Masjidil Haram. Tapi apalah arti Masjidil Haram atau Ka'bah... semua itu hanya sebagian kecil tempat Allah berbagi kemuliaanNya yang pantas dinikmati siapapun, usia berapapun, jenis kelamin dan makhluk apapun...semua layak dan berhak merasakan kebesaran yang terserak itu.

Sepenglihatan saya, bayi dalam prosesi ibadah di tempat ini bukanlah hal yang aneh. Tidak hanya dalam sholat. Dalam tawaf maupun sa'i tak jarang orang tua menggendong anak mereka yang masih bayi atau balita.

Membuat iri memang, terlintas seandainya KHALIL ACYUTA dan KHAFI DHEVA dua buah hatiku ini ada saat itu, ingin rasanya mengajarkan betapa ibadah itu menyenangkan juga pelik dengan segala kompleksitas maupun simplisitas yang hanya diketahui oleh Allah dan kita sebagai makhluk yang unik, non rekuren serta tanpa preseden sebagai ciptaanNya yang rapuh.

(Salah satu sudut masjidil haram, 10 April 08. Pasca sai)

07 April 2008

Sebetulnya agak malu saya menceritakan hal ini. Peristiwa ini terjadi saat saya tengah asik khusuk berada di dalam raudah. Sebuah tempat antara rumah Rasulullah SAW (kini Makam beliau) dengan Mimbarnya.


Tempat itu menurut sabda Rasul adalah salah satu tempat diantara taman - taman surga, dimana berdoa ditempat ini Insya Allah akan mustajab. Tempat ini secara fisik juga mudah terindentifikasi dengan hamparan karpet warna Hijau diantara karpet warna Merah, dengan ukuran yang tidak seberapa luas.


Saya berada di tempat itu sejak jam 3 dini hari untuk melakukan berbagai ritual kehambaan. hingga tiba - tiba kemasyukanku terganggu ketika tepukan mendarat di pundak saya.


"Yallah... yallah" kata seorang paruh baya sepertinya asal Turki sambil menunjukaan kedua jarinya "yallah" sepertinya setengah memaksa mengusir saya agar memberikan tempat diraudah untuknya..."la la la (tidak tidak tidak).." jawabku dia memaksa berkali kali hingga akhirnya tetangga raudah saya berdiri dan memberikan tempat untuknya..."lho kok dia rela ya" pikirku.


Rupanya tetangga sebelah saya menunggu hingga sholat si Turki itu selesai, kemudian..."Syukran syukran..." kata si Turki tersebut usai sholat kepada si pemilik tempat sambil berlalu.

Masya Allah jadi tadi maksud 2 jari adalah kesempatan sholat 2 rakaat yang dia minta untuk dilakukan di Raudah, Astagfirullah kenapa saya jadi bodoh dan bakhil dengan taman Allah...

Maafkan aku ya Allah yang tidak mengerti kekayaan bahasaMu, dan bakhilnya diri ini


(Madinah, 7 april 2008)

Subhanallah... ketemu lagi dengan mas Mulawarman. Sahabat saya ini wartawan dari Makassar, dan dalam beberapa kali perjalanan tidak pernah dinyana saya bertemu dia. Seperti yang terjadi pagi tadi, pasca sholat subuh di Masjid Nabawi Madinah, saya bertemu dengan Mas Mul.

Dengan senyumnya yang khas dia menyapa saya, "halo mas Kabul...Apa kabar???" wah takjub saya, ribuan kilometer dari tanah air bertemu lagi dengan beliau seperti saat operasi Militer di Aceh maupun di Makassar. Dan Akhirnya....kamipun berfoto...klik klik...jadilah kenangan itu


(Masjid Nabawi - Madinah, 6 April 2008)


02 March 2008

Akhirnya sabtu pagi saya, istri dan kedua anakku berkesempatan ke kampus yang sudah 9 tahun kami tinggalkan. Nuansa akademis, suasana kere dan prihatin kembali meruak di ingatan ini. Ruang - ruang kuliah yang menjemukan, lab - lab yang sunyi , lorong hampa dan banyak lagi

Terbayang kembali ketika saya dan istri harus ketempat pembuangan sampah akhir di Cijeruk hanya untuk mencari puluhan botol balsem yang akan dipakai pacarku (istriku sekarang) sebagai wadah inokulasi bakteri.

Menjadi kondektur, jualan disket atau saat saya harus menjual beberapa kaleng susu kental manis, agar dapat bertahan hidup. Bahkan meminjam dana Rp.540.000,- dari almamater dengan konsekuensi menggadaikan ijazah hingga pinjaman lunas agar penelitianku jalan terus. Dan jadilah saya melamar kerja di Monsanto (dulu) hanya bermodalkan surat keterangan lulus saja ha ha ha... (what's life).

Diakhir masa kuliah, saya dan pacar (sekali lagi istriku sekarang) berfoto didepan logo bulat IPB sambil tertawa...Akhirnya selesai sudah perjalanan 6 tahun kami menjadi mahasiswa gembel, yang mencoba bertahan kuliah dengan berbagai basic survival to be barchelor. 9 tahun kemudian saya dan istri kembali berfoto ditempat ini didampingi ke dua anakku Khalil dan Khafi.

Kangen juga mau kuliah lagi, tapi pake duit siapa?? duit dari mana?? mengandalkan IPK, kayaknya berat. Maklum saya tergolong mahasiswa NASAKOM alias Nyaris Satu Koma, gimana gak satu koma, belajar dengan menahan lapar karena gak punya uang untuk makan, dan nyambi apa aja supaya bisa tetap kuliah...asal bisa lulus aja udah sukur... maklum (lagi) bapak cuma pns rendahan dan ibu hanya penjahit kecil...kedua orang tuaku memang orang kecil yang tidak bervisi kecil dan tidak berjiwa kerdil.

Istilah mereka, mau jumpalitan kayak apapun, yang penting anak - anak harus sekolah. Bahkan mereka juga mengajarkan anak - anaknya harus tahan banting dan tidak cengeng dengan kondisi yang kami alami saat itu. Bayangkan dengan gaji yang tidak seberapa, bapak dan Ibu harus membiayai kakakku yang sedang kuliah di Farmasi UGM, juga adik yang baru diterima di Hortikultura IPB. Meskipun akhirnya masku yang sulung harus melepas kuliahnya dan memilih jadi PNS demi meringankan beban bapak ibu....

Mudah - mudahan saja saya dan istriku dapat membesarkan Khalil dan Khafi seperti bapak ibu membesarkan kami, tapi dengan perencanaan yang lebih baik tentunya. La Takhaf Wala Tahzan Innalaha Ma Anna... Insya Allah

(bekasi, 1 Maret 2008)

02 February 2008

"Aaaa...ittai ittai sensei..." kataku. Sensei Yamaguchi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat saya berbicara dalam bahasa jepang, "kohai, anatawa nihonggo dekimasuka...". "haik so desu yo" jawabku. "watashi no metro tv shimbunkisha desu". "a a a... simbunkisha ne..".

Ha ha ha... padahal cuma menguasai beberapa kalimat saja tapi udah gaya, ngaku bisa bahasa jepang. Lumayanlah modal kursus nihonggo 3 bulan akhirnya bermanfaat juga.

Saat itu (28/01/08) memang pertama kalinya saya mengikuti Gashuku Shorinji kempo di Pusdiklat Pondok Gede. Banyak teknik yang luar biasa praktis dan efektif buat self defense. Mulai dari Mengunci, Membanting, sampai teknik yang sangat fatal jika diterapkan tanpa perhitungan yang baik.

Ini juga moment yang sangat menyenangkan untuk bertemu dengan puluhan Kenshi asal Jepang yang luar biasa trampil dan cantik tentunya ha ha ha.... Bayangkan saya sempat merayu salah satu kenshi yang gak bisa bahasa inggris, "anatawa kirei desu ne... " mudah mudahan tahun depan ketemu lagi di event yang sama

(Jakarta, 2 Februari 2008)

28 January 2008

Ini adalah malam terakhir saya dan keluarga di kota Makassar (28 Jan. 2008). Sama sedihnya ketika 3 tahun yang lalu saat saya diperintahkan menjadi Kepala Biro di Makassar. Meninggalkan sesuatu yang sepertinya sudah mendarah daging dalam diri ini. Ada rasa kehilangan yang sangat besar. Sama besarnya ketika saya harus meninggalkan Tilamuta - Gorontalo 15 tahun silam.
Di biro Makassar ini, saya belajar banyak hal dari kehidupan yang terus berproses tanpa henti. Di sini saya mengenal arti persahabatan yang tulus, berharganya sebuah janji, bernilainya setangkup harapan hingga dalamnya sebuah impian.

Ditempat ini pula saya mendapat banyak keluarga baru, sahabat yang rela berbuat apapun demi diriku, hingga teman setia dalam semua penantian dan harapan panjang.

Office like home, not home like... saya selalu menekankan kondisi tersebut kepada seluruh kru di biro ini, agar kenyamanan dan keamanan tetap terjaga, kebersamaan selalu terjalin didalamnya seperti sebuah rumah dan sebuah keluarga.

Bagi saya biro Makassar lebih dari sebuah kantor yang nyaman dan indah. Di dalamnya saya belajar menjadi seorang bapak yang harus menikahkan anaknya, seorang yang harus melamarkan wanita untuk saudaranya, guru untuk berbagi ilmu, teman yang mau mendengar, pimpinan yang harus membimbing, tangan besi yang harus memukul, hingga seteru bagi yang tidak sejalan dan ndablek atau sok pintar.

Bukan hanya itu, pengalaman luar biasa di biro ini adalah ketika menjadi seorang inisiator, negosiator, konseptor hingga konspirator dan provokator.


Banyak hal kudapat dari memahami karakter orang per orang di tempat ini, yang akhirnya tersusun dalam catatan panjang prilaku dan kebiasaan setiap individu, dan akhirnya membenarkan sebuah teori lama yang kudapat saat kuliah 14 tahun yang lalu, bahwa individu adalah unik, non rekuren dan tanpa preseden.

Prilaku unik mengenai kebaikan dan kebajikan setiap orang, keluguan, ketepatan memegang janji setia, kerja keras, kecerdasan serta kesetiaan. Namun... juga pelajaran mengenai orang - orang yang merasa dirinya hebat, superior dan dominan dari lain seperti ras aria atau yahudi. Adapula orang - orang yang merayu dengan segala lalu mengabaikan segalanya setelah seluruh keinginannya terpenuhi.

Bahkan belajar memahami bahwa ada sebuah kehidupan yang tega membicarakan semua keburukan atau mencela kita saat jauh dari biro ini, dengan mengatakan rekan kita tidak layak untuk sebuah pekerjaan, ketidak patutan menjadi best employee hingga mengatakan kita tidak layak memberi rekomendasi... dengan kata lain teman adalah saat kita dibutuhkan bukan saya dia dibutuhkan. but is okay live must go on, not all what I wishes is best for me.


Biro ini memberikan banyak kebaikan, berkah dan kehidupan baru dalam setiap sendi kehidupan serta kelempangan karir saya. Bagi saya posisi, jabatan, pangkat atau apapun itu bukanlah tujuan, melainkan dari apa yang kita hasilkan.

Kita gak perlu ambisi terhadap sesuatu melainkan ambisi pada kebaikan. Bukankah semua orang itu baik, hanya keinginannya pada sesuatu yang menyebabkan dia menjadi jahat....

Selamat tinggal biro Makassar, selamat tinggal Makassar, selamat tinggal sepenggal kehidupan yang pernah bergulir di dalamnya. Mohon maaf atas semua Kezhaliman yang telah saya buat, janji yang telah saya abaikan, kesetiaan yang pernah kita lupakan.

Semoga Allah membalas semua kebaikan kita... Amien

(Makassar, 280108)

25 January 2008


Dalam beberapa hari terakhir, saya dan istri saya membicarakan suatu cobaan yang tidak pernah putus dalam kehidupan kami sekeluarga yaitu Nikmat dari Allah SWT. Bayangkan dalam kurun waktu satu tahun (2007 - 2008), Allah sudah memberikan banyak hal yang sepertinya selama ini hanya khayalan kami saja.

Bayangkan pada tahun 2007 kami sekeluarga dianugrahi 1 seorang anak laki - laki yang lucu dan sehat, masih ditahun yang sama saya mendapat predikat runner up best employee dengan hadiah Umroh, Promosi jabatan menjadi koordinator pengembangan - Litbang dengan berbagai fasilitasnya hingga Kemudahan mutasi istri untuk bersama - sama ke Jakarta...Masya Allah...

Kenapa saya katakan cobaan? karena harta benda, anak dan istri kita adalah fitnah, juga karena kemudahan dapat menipu, kenikmatan dapat berubah seketika menjadi adzab yang pedih kalau kita tidak bersyukur (La insyakartum la adzidanakum, wala inkafartum inna adzabi la syadid)

Serta merta saya jadi teringat sebuah kata - kata bijak "ketika Tuhan diuji dengan kesusahan, hampir semuanya Lulus dengan baik. Namun ketika diuji dengan nikmat, hanya segelintir saja yang dapat melaluinya dengan baik..."


Fabbiayi'alai Rabbikuma Tukadziban - Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ingkari.

Kondisi ini semakin membuat kami sekeluarga semakin berhati- hati, jangan sampai karena terlalu banyak nikmat lantas kami sekeluarga menjadi kufur nikmat dan akhirnya diganjar dengan kepedihan tiada henti. Naudzubillahi min zallik...

(Makassar, 250108)

26 December 2007


Aku bertanya pada Ibu, siapakah lelaki sejati? Ibu menjawab, Nak...Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang,
tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana diadi hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
tetapi dari hati yang ada dibalik itu...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja,
tetapi komitmennya terhadap wanitayang dicintainya...

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan,
tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan...

Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci,
tetapi dari konsistennya diamenjalankan apa yang ia baca...

(Makassar, 261207 - ku kutip dari teman yang baik)

Categories

Pages

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget